Rabu, 19 Juni 2019

Surat Kartini Kepada Stella Zeehandelaar

“Pada awalnya Anda makan opium, tetapi pada akhirnya opium itu akan memakanmu.”

~dicuplik dari Surat Kartini Kepada Stella Zeehandelaar~

Namanya Estelle Zeehandelaar, atau oleh Kartini disapa Setella. Mungkin tidak semua orang mengetahui sosok sahabat dari Kartini ini, bahkan namanya pun asing terdengar di telinga masyarakat Indonesia. Namun, perannya sangat besar dalam membentuk pandangan Kartini mengenai kedudukan dan peranan perempuan di Eropa.
Stella lahir di Amsterdam dari keluarga Yahudi. Usianya lebih tua lima tahun dari Kartini. Stella adalah seorang pejuang bagi kaum feminis di Eropa yang sering terjun langsung memperjuangkan hak perempuan. Ayahnya adalah seorang dokter yang wafat ketika ia masih kecil. Stella kemudian diasuh oleh pamannya hingga dirinya selesai menyelesaikan sekolah di HBS. Setelah lulus, Stella bekerja di Kantor Pos, Telepon, dan Telegram di Amsterdam.
Tahun 1899, ketika kartini berusia 20 tahun, merupakan awal perkenalan antara Kartini dengan Stella. Kartini muda memiiliki pandangan yang kritis terhadap keadaan yang terjadi di Indonesia. Kartini mengetahui banyak hal tentang berbagai peristiwa yang terjadi di Eropa, termasuk tentang pergerakan perempuan. Sebuah hal yang tidak akan pernah bisa terjadi di Indonesia ketika itu, yang sangat membatasi kebebasan perempuan. Kartini mulai tertarik untuk mengetahui lebih dalam mengenai pergerakan perempuan di Eropa, terutama mengenai sikap dan gagasan-gagasan perempuan di sana.
Kartini kemudian mempunyai ide untuk memasang sebuah iklan di majalah di Belanda, De Hollandsche Lelie. Dalam iklannya tersebut ia menyebutkan bahwa dirinya adalah puteri seorang Bupati Jepara di Hindia Belanda. Kartini mencari sosok teman perempuan untuk dapat saling surat menyurat. Teman yang dicarinya harus berasal dari Belanda dan sebaya dengan Kartini. Selain itu temannya ini harus mempunyai perhatian terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di Eropa. Iklannya tersebut kemudian mendapatkan respon dari seorang perempuan Belanda bernama Estella Zeehandelaar. Itulah perkenalan antara Kartini dengan Stella.
Stella sendiri sebenarnya tidak mempunyai pandangan tinggi terhadap kaum laki-laki. Sebagai seorang sosialis dan idealis, Stella membela kepentingan rakyat tanpa memandang kepentingan diri sendiri. Walaupun begitu, sebagai seorang pejuang feminis Stella tetap mempertahankan hak-hak perempuan. Sosok seperti Stella yang dicari oleh Kartini untuk bertukar pandangan.
Surat menyurat antara Kartini dengan Stella berisi pandangan mengenai pembangunan masyarakat yang baik di negeri masing-masing. Surat pertama Kartini untuk Stella berisikan mengani kehidupan masyarakat adat yang masih sangat kuat, yang menghalangi terjadinya kemajuan. Selain itu Kartini bercerita mengenai pingitan yang telah dialaminya, emansipasi wanita, kehidupan rakyat, keluarga, tentang sastra, mengenai pribadinya sendiri, hingga pandangan Kartini mengenai pemerintah Hindia Belanda yang berkuasa di negerinya.
Dari semua yang telah diceritakan oleh Kartini, Stella sangat mendukung kemerdekaan sahabatnya itu. Semua hal yang diutarakan oleh Kartini adalah sebuah hal yang baru bagi Stella. Ia pun sangat mengagumi kelancaran Kartini dalam menggunakan bahasa Belanda dan pemilihan kata-kata yang digunakan sangat mudah untuk dipahami. Lebih dari itu, Stella sangat kagum terhadap kepintaran Kartini dan pandangannya yang sangat kritis, melebihi pandangan gadis-gadis sebayanya di lingkungannya.
Hubungan antara Kartini dengan sahabatnya tersebut semakin erat. Surat menyurat terus mereka lakukan hingga akhir hayat Kartini.

Surat oleh Kartini.
--o0o--



Untuk: Stella Zeehalendaar

Japara, 25 May 1899

Saya merindukan untuk berkenalan dengan seorang “gadis modern,” gadis yang bangga, merdeka, yang merebut sympathi saya. Gadis yang bahagia dan mandiri, melangkah dengan ringan dan penuh waspada dalam kehidupannya, penuh dengan antusiasme dan perasaan yang hangat, pekerjaannya bukan hanya untuk kesejahtaraannya sendiri, tetapi untuk kebaikan seluruh umat manusia.

Saya berseri-seri dengan antusiasme terhadap era baru yang telah datang, dan benar-benar dapat mengatakan bahwa dalam pikiran dan simpati saya Saya bukan milik dunia Hindia, tetapi milik saudara saudara perempuan saya yang putih yang berjuang untuk maju jauh di Barat. 

Jika hukum negeri saya mengijinkan, tidak ada yang saya ingin lakukan selain memberikan diri sepenuhnya kepada usaha dan perjuangan dari wanita baru di Eropa, tetapi tradisi tua yang tidak dapat dirusak, menggenggam kami dengan lengannya yang kuat. Suatu saat nanti mereka akan melonggarkan lengan dan membiarkan kami pergi, tapi saat itu masih jauh dari kami, jauh, tak terhitung jauhnya. Saat itu akan datang, yang saya tahu; mungkin tiga atau empat generasi setelah kami. Oh, kamu tidak tahu bagaimana rasanya mencintai era baru yang masih muda ini dengan hati dan jiwa, namun tangan dan kaki terpasung, dirantai oleh semua hukum, adat, dan konvensi tanahair. Semua lembaga-lembaga kami secara langsung menentang kemajuan yang begitu lama saya idamkan, demi kepentingan rakyat. Siang dan malam saya bertanya-tanya dengan cara apa tradisi kuno ini bisa diatasi. Bagi saya sendiri, saya bisa menemukan cara untuk menepiskannya, mematahkannya, kalau bukan ikatan lain, ikatan yang lebih kuat daripada tradisi tua yang pernah ada, mengikat saya ke dunia saya saat ini, dan itu adalah cinta yang saya tahan untuk mereka yang kepada merekalah saya berhutang hidup, dan kepada mereka saya harus berterima kasih untuk semuanya. Apakah saya punya hak untuk mematahkan hati mereka yang telah tidak memberi saya apa-apa selain cinta dan kebaikan seumur hidup saya, dan mengelilingi saya dengan perhatian yang lemah lembut?

Tapi bukan suara saja yang menggapai saya dari jauh, terang itu, Eropa yang baru lahir itu, yang membuat saya ingin merubah kondisi yang ada. Bahkan di masa kecil saya pun, kata “emansipasi” memesona telinga saya, memiliki suatu makna yang tidak dimiliki hal-hal lain, makna yang jauh di luar pemahaman saya, dan terbangun di dalam diri saya akan kerinduan yang semakin dalam untuk kebebasan dan kemerdekaan – keinginan untuk berdiri sendiri. Kondisi lingkungan dan orang lain di sekitar saya mematahkan hati saya, dan kesedihan tanpa nama yang bekepanjangan untuk kebangkitan negeri saya.

Lalu suara-suara yang menembus dari kejauhan itu menjadi lebih jelas, hingga sampai kepada saya, menjadi kelegaan buat orang yang mencintai saya, tetapi kesedihan buat orang lain, membawa benih ke hati saya, berakar, tumbuh kuat dan subur.


Dan sekarang saya harus mengatakan tentang diri saya, sehingga anda dapat mengenal saya.

Saya adalah anak sulung dari tiga anak perempuan Bupati Jepara yang belum menikah, dan saya memiliki enam saudara-saudari. Dunia apa ini, eh? Kakek saya, Pangeran Ario Tjondronegoro dari Demak, seorang pemimpin besar dalam gerakan progresif di era beliau, dan bupati pertama dari Jawa tengah yang membuka pintu kepada tamu dari seberang laut – peradaban dunia barat. Semua anak-anaknya memiliki pendidikan Eropa; mereka semua memilikinya (beberapa dari mereka telah wafat). Semua cinta terhadap kemajuan, cinta yang diwariskan ayah mereka, kemudian di wariskan ke anak-anak mereka, didikan keluarga yang sama seperti yang mereka sendiri telah terima. Banyak dari sepupu dan saudara-saudara lelaki saya yang lebih tua lulus dari Sekolah-Hoogere Burger, institusi tertinggi yang kami miliki di Hindia; dan anak bungsu dari tiga saudara lelaki saya yang lebih tua telah belajar selama tiga tahun di Belanda, dan dua lainnya melakukan pelayanan negara itu. Kami anak perempuan, sejauh ini pendidikan berlangsung, terbelenggu oleh tradisi dan konvensi kuno, telah beruntung sedikit oleh hal ini. Adalah kejahatan besar terhadap adat di tanah kami jika kami harus dididik, dan terutama jika kami harus meninggalkan rumah setiap hari untuk pergi ke sekolah. Karena kebiasaan negara kami yang sangat kuat melarang gadis untuk keluar rumah. Kami tidak pernah diperbolehkan pergi kemana saja, walaupun begitu, jangankan ke sekolah, satu-satunya tempat pengajaran yang dibanggakan oleh kota kami, yang terbuka bagi kami, adalah sekolah dasar gratis bagi Eropa.

Ketika saya mencapai usia dua belas tahun, saya ditahan di rumah – saya berada di dalam “kotak”, dikurung, terputus dari semua komunikasi dengan dunia luar, ke arah dimana saya mungkin menjadi tidak aman di samping calon suami – orang asing- lelaki yang tidak dikenal yang dipilih oleh orangtua saya untuk saya – lelaki yang ditunangkan kepada saya tanpa sepengetahuan saya. Teman-teman Eropa, ini saya dengar kemudian – dan telah berusaha dengan segala cara yang mungkin untuk menghalangi orang tua saya agar tidak melakukan hal kejam ini terhadap saya, seorang anak muda dan yang mencintai kehidupan, tetapi mereka tidak mampu melakukan apa apa. Orang tua saya tak bisa ditawar, saya pergi ke penjara saya. Empat tahun lamanya, saya habiskan diantara dinding-dinding tebal, tanpa pernah melihat dunia luar.

Bagaimana saya melewati waktu, saya pun tidak tahu. Saya hanya tahu bahwa itu sangat mengerikan. Tapi ada satu kebahagiaan besar yang tersisa buat saya: membaca buku Belanda dan korespondensi dengan teman-teman Belanda tidak dilarang. Ini satu-satunya cahaya di kekosongan itu, saat yang muram, hanya itu, tanpa itu, mungkin saya sudah jatuh, ke dalam keadaan yang lebih menyedihkan. Hidup saya, bahkan jiwa saya pasti sudah kelaparan. Tapi kemudian datang teman dan penyelamat saya – Roh dari sang Zaman, langkah kakinya menggema di mana-mana. Dengan bangga, dasar bangunan-bangunan kuno yang kokoh terhuyung-huyung saat didekatinya. Pintu-pintu yang tertutup kokoh terbuka menerjang, beberapa menerima seperti diri mereka sendiri, yang lain hanya setengah hati, namun demikian mereka terbuka, dan membiarkan tamu tak diinginkan masuk.

Akhirnya di usia enam belas, saya kembali bisa keluar. Terima kasih Tuhan! Terima kasih Tuhan! Saya bisa meninggalkan penjara saya sebagai manusia yang bebas dan tidak dirantai kepada mempelai pria yang tak diinginkan. Kemudian dengan cepat diikuti oleh peristiwa-peristiwa yang memberikan kembali kepada kami anak perempuan kebebasan yang pernah hilang.

Pada tahun berikutnya, pada saat penobatan Ratu Muda (ratu Wilhelmina), orang tua kami memberikan kembali kebebasan kami secara “resmi”. Untuk pertama kalinya dalam hidup kami, kami diizinkan meninggalkan kota kami, dan pergi ke kota-kota tempat di mana perayaan diadakan dalam menghormati kesempatan itu. Betapa itu suatu kemenangan besar yang tak ternilai! Gadis-gadis muda seperti kami yang harus menunjukkan diri di depan umum terjadi di sini, dan belum pernah terdengar kejadian sebelumnya. “Dunia” berdiri terperanjat, lidah-lidah bergoyang-goyang akan kejahatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Teman-teman Eropa kami bersukacita, dan untuk diri kami sendiri, tidak ada ratu yang sekaya kami. Tapi saya jauh dari puas. Saya masih akan pergi lebih jauh lagi, selalu lebih lanjut. Saya tidak ingin pergi ke pesta-pesta itu, atau hiburan yang sedikit sembrono. Itu tidak pernah menjadi penyebab kerinduan saya akan kebebasan. Saya mengidamkan untuk menjadi bebas, untuk dapat berdiri sendiri, untuk belajar, untuk tidak tunduk kepada siapapun, dan di atas semua itu, tidak pernah, tidak pernah diwajibkan untuk menikah.

Tetapi kami harus menikah, harus, harus. Tidak menikah adalah dosa terbesar yang bisa dilakukan oleh wanita muslim, aib terbesar oleh seorang seorang gadis terhadap keluarganya.
Dan perkawinan pada kami, penderitaan adalah suatu ungkapan yang lemah untuk mengekspresikannya. Bagaimana tidak, saat hukum menyajikan segalanya untuk pria tetapi kosong terhadap wanita? Dimana hukum dan konvensi adalah untuk lelaki, dimana segalanya diperbolehkan untuk lelaki?

Cinta! Apa yang kita ketahui tentang cinta disini? Bagaimana kita bisa mencintai orang yang kita tidak pernah kenal? Dan bagaimana ia bisa mencintai kita? Itu hal yang tidak mungkin. Pemuda-pemudi harus tetap terpisah secara kaku, dan tidak pernah diizinkan bertemu.

Saya sangat ingin tahu kesibukan anda. Semuanya itu sangat menarik bagi saya. Saya berharap tahu tentang studi anda, saya akan tahu mengenai malam-malam Toynbee anda, dan masyarakat abstinence yang sebagai anggotanya anda sangat bersemangat dan menyanjung.
Di antara kami orang Hindia, kami belum meminum iblis itu untuk dilawan, terima kasih Tuhan! – Tapi saya takut bila kami minum sekali – maafkan saya – Peradaban Barat telah berpijak di antara kami – kami juga harus memiliki iblis itu untuk dihadapi. Peradaban adalah berkat, tetapi juga memiliki sisi gelap. Kecenderungan untuk meniru adalah bawaan lahir, saya yakin itu. Massa/rakyat meniru kelas atas, yang pada gilirannya meniru orang-orang dari jajaran yang lebih tinggi lagi, dan hal ini berlanjut meniru lagi mengikuti orang orang Eropa.

Di kami tidak ada pesta pernikahan tanpa minum. Dan pesta-pesta penduduk asli, di mana mereka tidak memiliki keyakinan agama yang kuat (dan biasanya mereka beragama Islam hanya karena nenek moyang mereka, kakek dan leluhur jauh adalah Muslim-- dalam kenyataannya, mereka sedikit lebih baik dari kafir), botol persegi besar selalu tersedia, dan mereka hemat dalam menggunakan ini.
Tetapi setan yang lebih hebat daripada alkohol ada di sini dan itu adalah opium. Oh! Penderitaan, kengerian yang tak terkatakan itu telah dibawa ke negara saya! Opium adalah hama Jawa. Ya, opium jauh lebih buruk daripada hama. Hama tidak bertahan selamanya; cepat atau lambat, ia hilang, tapi kejahatan opium, setelah terbentuk, tumbuh. Semakin lama semakin menyebar, bertambah, dan tidak akan pernah meninggalkan kami, tidak pernah berkurang, secara singkat/apa adanya – opium itu dilindungi oleh Pemerintah! Semakin menyeraknya penggunaan opium di Jawa, semakin penuh uang kas bendahara.

Pajak opium adalah salah satu sumber terkaya dari penghasilan Pemerintah – apa masalanya jika berakibat baik atau buruk terhadap penduduk? – Pemerintah menjadi makmur. Kutukan dari penduduk ini mengisi kas Pemerintah Hindia Belanda Timur dengan ribuan – bukan itu saja, bahkan jutaan. Banyak yang mengatakan bahwa penggunaan opium bukan hal buruk, tetapi orang yang mengatakan itu tidak pernah mengenal Hindia atau mereka pasti buta.

Apa yang membunuh kami sehari-hari, kebakaran pembakar, perampokan, melainkan akibat langsung dari penggunaan opium? Benar, keinginan akan opium tidak begitu buruk selama seseorang itu bisa mendapatkannya – ketika seseorang itu memiliki uang untuk membeli racun itu; tapi apabila seseorang itu tidak dapat memilikinya, ketika seseorang itu tidak memiliki uang untuk membelinya, dan dia adalah seorang pengguna yang berat? Kemudian seorang itu menjadi berbahaya, seorang yang tersesat. Kelaparan membuat seseorang menjadi pencuri, tapi rasa lapar akan opium akan membuat dia menjadi seorang pembunuh. Ada pepatah di sini – “Pada awalnya Anda makan opium, tetapi pada akhirnya opium itu akan memakanmu.”

Sangat mengerikan untuk melihat begitu banyak kejahatan dan tidak berdaya melawannya. Saya tahu buku bagus oleh Nyonya Goekoop itu. Saya telah membacanya tiga kali. Saya tidak akan pernah bosan akan itu. Apa yang tidak akan saya beri untuk dapat hidup di lingkungan Hilda? Oh, bahwa kami di Hindia sudah berjalan sejauh ini, bahwa suatu buku bisa menyebabkan kontroversi keras di antara kami, seperti apa yang disebabkan Hilda Van Suylenburg di negara Anda. Saya tidak akan pernah beristirahat sampai H. V. S. muncul dalam bahasa kami untuk melakukan hal yang baik juga hal yang buruk pada dunia Hindia kami. Ini adalah soal ketidakacuhan, apakah hal itu baik atau merusak, jika hal itu menciptakan suatu kesan, itu menunjukkan bahwa seseorang itu tidak lagi tidur, dan Jawa masih dalam tidur nyenyak. Dan bagaimana penduduknya bisa dibangunkan, ketika orang orang yang pantas menjadi contoh, mereka sangat suka tidur. Kebanyakan besar perempuan Eropa di Hindia hanya peduli sedikit atau tidak peduli sama sekali terhadap usaha saudara perempuan mereka di tanah air.

Apakah Anda tidak akan bercerita kepada saya sesuatu tentang buruh-buruh, perjuangan-perjuangan, sentimen-sentimen, dari wanita-wanita hari ini di Netherlands? Kami sangat berminat sekali tentang Gerakan Wanita.

Saya tidak paham bahasa-bahasa modern. Alas! Kami para wanita tidak diperkenankan oleh hukum untuk belajar bahasa-bahasa; adalah inovasi yang luar biasa bagi kami untuk belajar bahasa Belanda. Saya sangat berhasrat untuk memahami bahasa-bahasa, bukan untuk berbicara menggunakan bahasa-bahasa itu, tetapi untuk kegembiraan yang jauh lebih besar karena bisa membaca banyak karya indah dari penulis-penulis asing dalam bahasa mereka. Bukankah tidak benar bahwa tidak memiliki suatu keberatan dengan betapa bagusnya suatu terjemahan yang bisa dihasilkan, terjemahan itu tidak akan pernah sebagus aslinya? Yang asli selalu lebih kuat--lebih memikat.

Kami punya banyak waktu untuk membaca, dan membaca adalah kegembiraan terbesar kami--kami, yaitu, adik perempuan dan saya. Kami bertiga dibesarkan dengan cara yang sama, dan benar-benar sama satu dengan lainnya. Kami berbeda dalam hal usia, satu dengan lainnya, tetapi hanya berbeda satu tahun saja. Diantara kami bertiga ada kecocokan yang sangat kuat. Secara alami kami kadang-kadang memiliki perbedaan-perbedaan pendapat kecil, tetapi itu tidak melemahkan ikatan yang mengikat kami bersama. Pertengkaran-pertengkaran kecil kami sangat mengesankan, Saya kira begitu: Saya suka dengan perdamaian yang mengikuti setelahnya. Itu adalah hal yang terhebat dari semua kebohongan--bukankan kamu kira begitu juga? -- bahwa dua manusia manapun bisa berpikir hal yang sama dalam segala hal. Itu tidak bisa; orang yang berkata seperti itu pasti munafik.

Saya belum mengatakan kepadamu berapa umur saya. Saya baru saja berusia dua puluh bulan lalu. Aneh, bahwa ketika saya berumur enam belas Saya merasa sangat tua, dan punya begitu banyak mood melankolis! Sekarang bahwa Saya bisa merasa muda dan penuh kegembiraan hidup, dan perjuangan hidup, juga.

Panggil saja saya Kartini; itulah nama saya. Kami orang jawa tidak memiliki nama keluarga. Kartini adalah nama yang diberikan kepada saya dan sekaligus nama keluarga saya, keduanya bersamaan dalam waktu yang sama. Andaikan "Raden Adjeng" disangkutkan, kedua kata itu adalah gelar. Saya bilang kepada Mevrouw van Wermeskerken, ketika Saya memberinya alamat saya, untuk tidak mencantumkan Kartini saja--itu bisa sulit sampai kepada saya dari Holland. dan seperti halnya menulis mejuff ruow, atau sesuatu yang seperti itu, Saya tidak ber hak untuk itu; Saya hanya seorang jawa.

Sekarang, sampai disini, kamu sudah cukup tahu tentang saya--bukan begitu? Lain kali Saya akan bercerita kepadamu tentang kehidupan Hindia kami.

Apabila ada yang ingin kamu ketahui tentang hal-hal Hindia kami, silahkan tanyakan kepada saya. Saya siap bercerita semua yang Saya tahu tentang negara saya dan rakyat saya.

--o0o--

catatan pendek: 
Terjemahan isi surat Kartini kepada sahabatnya Stella Zeehandelaar ini tidak terlalu akurat 100% karena saya tidak terlalu ahli dalam menerjemahkan bahasa yang digunakan Kartini yang sudah diterjemahkan lagi ke dalam bahasa inggris dalam surat-suratnya ini. Tetapi saya sertakan screenshot dari arsip pdf dari Universitas California - Los Angeles, bagi yang ingin membaca langsung versi bahasa inggrisnya.

Sabtu, 20 April 2019

Kartini dan Feminisme


Perempuan yang selalu bermimpi dan terus bermimpi untuk mewujudkan impiannya. Mimpi bukan kita temui dalam tidur, karena Mimpi tidak akan pernah membiarkan kita tidur, hidup adalah mimpi keterjagaan adalah batas dari mimpi, pemerhati pendidikan dan pemerhati anak...


Feminisme merupakan gerakan menuntut adanya emansipasi atau kesamaan hak dan keadilan dengan pria. Kata feminisme dicetuskan pertama kali oleh aktivis sosialis utopis, Charles Fourier pada tahun 1837. Banyak sekali hal-hal yang diperjuangkan gerakan ini, mulai dari tuntutan hak atas perlindungan perempuan dari kekerasan rumah-tangga, pelecehan seksual dan perkosaan, persamaan hak perempuan dalam bidang pekerjaan, dan lain-lain. Pencetus ide dan pemikiran-pemikiran diatas sebagian besar adalah perempuan-perempuan kelas menengah Inggris, Perancis dan Amerika Serikat.

Sojouner Truth, seorang bekas budak kulit hitam berkewarganegaraan Amerika yang pertama kali membeberkan masalah perbudakan di negaranya. Pada tahun 1851, Truth berpidato didepan khalayak ramai di Akron, Ohio dan pidatonya ini terkenal dengan sebutan ” Ain’t I a Woman?”.  Kemudian munculah gelombang pertama feminisme. 

Pada gelombang pertama dikenal Dominance and Deficit Communication Scholarship artinya model satu budaya dimana perempuan didominasi laki-laki sebagai kelompok, suara perempuan dibungkam dalam masyarakat yang heteropatriarki, bahasa bersifat seksis dan memperlakukan perempuan berbeda dengan laki-laki. Feminisme di Indonesia berawal dari R.A Kartini yang memperjuangkan hak-hak kaum perempuan. Terutama hak-hak kaum perempuan untuk mengenyam pendidikan. Surat-surat yang dituliskan ke teman penanya perempuan Belanda antara tahun 1899 dan 1904 yang dipublikasi setelah ia meninggal menimbulkan simpati dan memacu timbulnya gerakan feminis di Indonesia.  Semua isi suratnya menceritakan ketidak berdayaan perempuan diantaranya :

 “… ketika aku berumur 12 tahun aku harus tinggal di rumah dan masuk dalam “sangkar”  aku dikurung dan tidak boleh kembali ke dunia itu selama belum berada di sisi suami,  seorang laki-laki asing yang dipilih oleh orang tua bagi kami….”  Kritik pedas dan kencaman kartini tentang kawin paksa bahkan poligami  “…jalan hidup perempuan Jawa telah dibatasi dan dibentuk menurut satu pola yang sama, kami tak boleh bercita-cita, satu-satunya yang boleh kami impikan adalah hari ini atau besok menjadi istri kesekian bagi salah seorang lelaki…. kaum perempuan disini tidak boleh menyatakan keinginan. Mereka begitu saja dikawinkan… “  Suratnya tentang perhatiannya tentang pendidikan untuk kaum perempuan “… jika kami menginginkan pendidikan dan pengajaran … itu bukan berarti kami ingin menjadikan perempuan sebagai saingan dari lelaki.. tetapi kami menginginkan perempuan lebih cakap melakukan tugas besar yang diberikan ibu alam ke tangannya…”

 Sedangkan gelombang ke dua terjadi antara tahun 1960an hingga tahun 1980an. Gelombang ini di Amerika Serikat semakin keras bergaung dengan diterbitkannya buku “The Feminine Mystique” yang ditulis pada tahun 1963 oleh Betty Friedan, seorang tokoh Feminis, penulis berkebangsaan Amerika. Ia protes bahwa wanita hanya diperbolehkan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

 Gerakan feminisme yang mendapatkan momentum sejarah pada 1960-an menunjukan bahwa sistem sosial masyarakat modern dimana memiliki struktur yang pincang akibat budaya patriarkal yang sangat kental. Marginalisasi peran perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, khususnya ekonomi dan politik merupakan bukti konkret yang diberikan kaum feminis.

Memasuki era 1990 an,  kritik feminisme masuk dalam institusi sains yang merupakan salah satu struktur penting dalam masyarakat modern. Termarginalisasinya peran perempuan dalam institusi sains dianggap sebagai dampak dari karakteristik patriarkal yang menempel erat dalam institusi sains. Tetapi, kritik kaum feminis terhadap institusi sains tidak berhenti pada masalah termarginalisasinya peran perempuan. Kaum feminis telah berani masuk dalam wilayah epistemologi sains untuk membongkar ideologi sains yang sangat patriarkal. 

Dalam kacamata eko-feminisme, sains modern merupakan representasi kaum laki-laki yang dipenuhi nafsu eksploitasi terhadap alam. Alam merupakan representasi dari kaum perempuan yang lemah, pasif, dan tak berdaya. Dengan relasi patriarkal demikian, sains modern merupakan refleksi dari sifat maskulinitas dalam memproduksi pengetahuan yang cenderung eksploitatif dan destruktif. 

Aliran feminisme yang paling dikenal adalah feminis liberal, radikal dan sosialis. Feminis liberal memilki pandangan mengenai negara sebagai penguasa yang tidak memihak antara kepentingan kelompok yang berbeda yang berasal dari teori pluralisme negara. Kaum Liberal Feminis, perempuan cendrung berada “di dalam” negara hanya sebatas warga negara bukannya sebagai pembuat kebijakan sehingga dalam hal ini ada ketidaksetaraan perempuan dalam politik atau bernegara. Feminis radikal lahir dari aktivitas dan analis politik mengenai hak – hak sipil dan gerakan – gerakan perubahan sosial pada tahun 1950 –1960 an dan gerakan–gerakan wanita yang semarak pada tahun 1960 – 1970 an.

 Feminis radikal menyatakan bahwa perasaan–perasaan keterasingan dan ketidakberdayaan pada dasarnya diciptakan secara politik dan karenanya transformasi personal melalui aksi–aksi radikal merupakan cara dan tujuan paling baik. Dengan kata lain ada perbedaan antara feminis liberal dan radikal, yaitu feminis liberal menekankan kesamaan antara laki–laki dan perempuan sedangkan feminis radikal menekankan pada perbedaan antara laki–laki dan perempuan. 

Feminisme sosialis lahir pada tahun 1970 an, menggunakan analisis kelas dan gender untuk memahami penindasan perempuan. Kaum feminis sosialis sepaham dengan feminisme marxis bahwa kapitalisme merupakan sumber penindasan perempuan. Akan tetapi, aliran feminis sosialis ini juga setuju dengan feminisme radikal yang menganggap patriarkilah sumber penindasan itu.

feminisme radikal mempermasalahkan antara lain tubuh serta hak-hak reproduksi, seksualitas, seksisme, relasi kuasa perempuan dan laki-laki, dan dikotomi privat-publik. "The personal is political" menjadi gagasan baru yang mampu menjangkau permasalahan perempuan sampai ranah privat, masalah yang dianggap paling tabu untuk diangkat ke permukaan. 



Senin, 04 Maret 2019

Memperingati Hari Lahirnya Soetan Sjahrir

Sutan Syahrir (Soetan Sjahrir) lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, 5 Maret 1909 dan meninggal di Zürich, Swiss, 9 April 1966 pada umur 57 tahun adalah seorang intelektual, perintis, dan revolusioner kemerdekaan Indonesia. Ia meninggal dengan status sebagai tahanan politik mantan teman seperjuangannya
sendiri.
Syahrir atau akrab dengan sapaan Bung Kecil, melalui diplomasinya menjadikan Indonesia sebagai negeri jajahan pertama di dunia yang masuk dalam agenda sidang Dewan Keamanan PBB. Ia adalah salah satu tokoh penting dibalik kemerdekaan Indonesia.
Mungkin memang kisah orang besar negeri ini selalu ditutup dengan cerita menyedihkan, terutama ketika kembali mengingat lelah yang telah dipersembahkan hanya untuk negeri tercinta.
Selamat hari lahir "bung kecil", dermamu akan selalu dikenang, pikiran-pikiranmu akan selalu dirindukan dan diperjuangkan oleh orang-orang yang mendambakan kemerdekaan jiwa dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan (humanisme).

Sabtu, 23 Februari 2019

Mengenal Lagu Internationale

Bangunlah, kaum yang terhina! Bangunlah, kaum yang lapar !
Kehendak yang mulia dalam dunia ! Senantiasa bertambah besar.
Lenyapkanlah adat dan paham tua !
Kita rakyat, sadar, sadar !
Dunia telah berganti rupa, tuk kemenangan kita!
Perjuangan, penghabisan. Kumpulah, berlawan !
Dan Internasionale pasti di dunia!


in-memoriam-internationale-body

        Semaun dan kawan-kawan dengan penuh semangat menyanyikan himne Internasionale dalam sebuah kereta api yang melaju pada sebuah film berjudul Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015), karya sutradara Garin Nugraha.

    Sungguh indahnya zaman keterbukaan saat ini, adegan itu tak dikenai sensor oleh Lembaga Sensor Film. Bisa dibayangkan, andai film itu dibuat pada zaman Orde Baru tentu sekuen itu pasti hilang kena sensor dari film berdurasi tiga jam.
Lho, kenapa? Jawabnya mudah, ia adalah bagian dari dongeng hantu Komunisme dalam penulisan sejarah resmi Orde Baru.
Ya, bait-bait Internationale ditulis sebagai sajak oleh penyair Eugène Pottier pada 1871. Sajak itu ditulis setelah gagalnya “Komune Paris”, sebutan untuk pemerintahan 72 hari dikatatur proletariat yang pertama di dunia pada masa Revolusi Perancis. Pottier merupakan salah satu anggota Komune, mendapat 3352 suara dari 3600 jumlah pemilih. Jatuhnya Komune Paris karena serangan balik kaum borjuasi memaksa Pottier melarikan diri ke Inggris dan Amerika, meski nantinya ia kembali pulang ke Perancis dan meninggal pada usia 71 tahun di tahun 1887.
Sajak Internationale sengaja diciptakannya untuk menyebarkan ide-¬ide Komune Paris ke seluruh dunia. Versi awalnya ditulis dalam bahasa Perancis, dan kemudian digubah menjadi lagu oleh Pierre Degeyter pada 1888. Selanjutnya, sajak yang pada dasarnya mengumandangkan spirit Revolusi Perancis itu diterjemahkan hampir ke semua bahasa, dinyayikan di segenap penjuru dunia, seolah-olah lagu ini mengiringi derap angin perubahan zaman waktu itu.
Karena popularitasnya lagu Internationale menjadi mars rakyat pekerja, gerakan kaum buruh internasional. Tak hanya milik kaum sosialis-komunis, bahkan kaum anarkis dan sosial-demokrat juga. Pasca kemenangan Revolusi Bolshevik 1921, himne Internationale sempat menjadi lagu kebangsaan Uni Soviet, setidaknya hingga 1944. Namun bersama itu, sejak dikobarkan Perang Dingin lagu perjuangan itu menjadi laksana hantu bagi dunia, hantu Komunisme, dan, karena itu, sekaligus jadi sasaran untuk diberangus di banyak negara Kapitalisme. Sudah tentu termasuk di Indonesia, pasca Peristiwa G30S1965.
Di Indonesia sendiri Internationale pertamakali disadur ke dalam bahasa Melayu oleh Soewardi Soeryaningrat alias Ki Hadjar Dewantara. Terjemahan itu dimuat di harian Sinar Hindia pada 5 Mei 1920, sebuah surat kabar yang dikeluarkan oleh Sarekat Islam Semarang. Meski penulis artikel “Seandainya Aku Seorang Belanda” (Als ik een Nederlander was) itu bukanlah anggota Sarekat Islam Semarang atau yang lebih mahsyur disebut Sarekat Islam Merah, bukan juga anggota ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeniging) yang berdiri tahun 1914, atau lebih-lebih anggota PKI (Partai Komunis Indonesia) yang baru berdiri pada 1924. Tapi, mudah diduga jika semangat Bapak Pendidikan Nasional ketika menerjemahkan lagu itu tentu tak terlepas dari sikap anti kapitalisme dan imperialisme-nya serta wawasan sosialisme yang dianutnya.
Segera saja pada kisaran 1920-an, Internationale menjadi semacam lagu wajib bagi semua kalangan pergerakan kemerdekaan di tanah Hindia Belanda. Tak hanya dinyanyikan pada rapat-rapat organisasi buruh dan mahasiswa pergerakan, untuk membuka dan menutup rapat, konon juga jadi lagu wajib siswa-siswa sekolah Sarekat Islam ketika mereka tengah mencari sumbangan biaya studi. Karena lagu itu membangkitkan spirit anti kapitalisme dan imperialisme, tak pelak Penasehat Urusan Bumiputra, R.A. Kern, pun menghimbau kepada pemerintah kolonial untuk mewaspadai persebarannya.
Memasuki zaman kemerdekaan, himne Internationale pernah tercatat sejarah menjadi nyanyian pengiring eksekusi hukuman mati pada 11 orang tokoh Kiri. Di antara mereka yang terkemuka adalah Amir Syarifuddin, mantan Menteri Pertahanan (1945 – 1948) dan mantan Perdana Menteri kedua di Indonesia. Merujuk tulisan Soe Hok Gie, “Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan”, pasca Peristiwa Madiun 1948, Amir dan beberapa pemimpin PKI lain seperti Maruto Darusman, Harjono, Sardjono, Soeripno dan Oei Gee Hwat tertangkap dan dihukum mati tanpa proses peradilan atas perintah Gubernur Militer Kolonel Gatot Subroto. Sebelum eksekusi dilakukan, mereka bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Internationale.
Setelah lama tenggelam selama periode kekuasaan Orde Baru, pada 2006 romantisme terhadap lagu Internationale kembali bergema mengiringi prosesi pemakaman Pramudya Ananta Toer. Kali ini ia dinyanyikan bersama dengan lagu Darah Juang yang merupakan lagu wajib bagi kalangan aktivis pergerakan angkatan 90-an.
Apa yang menarik dicatat, bahwa lagu Internationale dalam bahasa Indonesia berjumlah empat versi terjemahan. Pertama, yaitu Internationale versi Ki Hadjar Dewantara, diterjemahkan dari teks bahasa Belanda. Kedua, Internationale versi “resmi” PKI periode 1951 – 1965. Sayangnya tidak ada penjelasan dari sumber teks mana lagu tersebut diterjemahkan. Ketiga, Internationale versi terjemahan A. Yuwinu muncul pada 1970. Ini diterjemahkan dari perbandingan teks Internationale bahasa Rusia dan Tiongkok. Dan setahun berselang, keempat, pada 1971 muncul terjemahan Internationale versi terbaru dari sebuah komunitas Kiri, namanya Kolektif Enam Maret.
Kolektif Enam Maret itu melakukan kritik tajam terhadap terjemahan Internationale versi Ki Hadjar Dewantara dan versi resmi PKI relatif. Menurut mereka, kedua versi itu setali tiga uang alias tak jauh beda, yang dikritik keras sebagai telah kehilangan semangat Komune Paris. Dalam kerangka memperingati seabad sajak Internationale diciptakan oleh Eugène Pottier sekaligus memperingati seabad Komune Paris, Kolektif Enam Maret kemudian merilis sebuah terjemahan Internationale yang digubah dari versi bahasa aslinya yaitu bahasa Perancis, plus diperbandingkan dengan terjemahan Internationale dalam versi bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Rusia dan Tionghoa.
Kembali pada film Guru Bangsa: Tjokroaminoto, sebagai film biografi tokoh besar tentu karya ini dibuat berbasis penelitian sejarah. Namun demikian Garin Nugraha terlihat alpa ketika memilih terjemahan Internationale sebagai pengisi sekuen film itu. Lirik atau teks Internationale yang diambil sutradara sebagai materi film adalah terjemahan versi “resmi” PKI periode 1951 – 1965. Sementara konteks historis narasi film itu jelas mengambil momen kebangkitan dan radikalisme Sarekat Islam pada kisaran tahun 1920-an, di mana Internationale yang lazim dinyanyikan pada kurun tersebut bukan mustahil adalah lirik terjemahan versi Ki Hadjar Dewantara.


Cita-Cita Sosialisme Ala Indonesia





      Bahwa cita-cita tentang Sosialisme Indonesia memang sebenarnya hidup dan benar-benar mengakar di jiwanya Indonesia. Perkataan Tata-tentrem, Kerta Rahardja gemah Ripah Loh jinawi yang menjadi simbol dari Bangsa Indonesia pun menjadi bukti bahwa Sosialisme Indonesia memanglah tujuan daripada Bangsa Indonesia. Bukan Kapitalisme, juga bukan Feodalisme yakni Sosialisme indonesia, lebih tepatnya Sosialisme ala Indonesia.

Yang mengherankan tentu mengapa setiap kali kita mendengar kata tentang Sosialisme Indonesia, terbenak tafsiran yang mungkin saja berlainan maksud dengan pengertian Sosialisme ala Indonesia itu dan bahkan disengaja disalahtafsirka
n oleh oknum-oknum yang memang gandrung akan kebencian dan perpecahan. Apa namanya kalau bukan seorang pemecah belah jikalau ia sengaja menyalahtafsirkan Sosialisme Indonesia itu tanpa melihat bahwa Sosialisme Indonesia dengan nurani terbuka, yang karena tujuan-tujuan tertentu menyalahtafsirkan Sosialisme Indonesia yang dulu digelorakan di mukanya Indonesia oleh Presiden Pertama RI, Ir Soekarno dan sebagian Tokoh-Tokoh Bangsa Indonesia di masa yang lampau.

Sosialisme Indonesia atau sering disebut juga Sosialisme Religius menurut E. Ultrech S.H. adalah Sosialisme yang di Indonesiakan atau Indonesia yang disosialiskan. Ya, Sosialisme ala Indonesia itu muncul di dalamnya jiwa seluruh rakyat Indonesia, tumbuh subur didalam kebudayaan, adat-istiadat Indonesia semenjak dahulu kala, meskipun Sosialisme itu tidak seratus persen diterapkan oleh perilaku bangsa Indonesia. Disebut sebagai Sosialisme Religius itu pun merupakan cerminan dari masyarakat Indonesia yang religius. Jadi salah besar bila Sosialisme Indonesia digambarkan sama dengan Sosialisme di negara-negara lain yakni Sosialisme yang menolak Pluralisme Demokratis. Justru sebaliknya, Sosialisme Indonesia adalah sangat menjunjung Pluralisme Demokratis itu, yakni menjunjung tinggi keberagaman yang ada di bumi Indonesia. Apa sebabnya Sosialisme itu sampai sekarang tidak bisa benar-benar diterapkan seratus persen, meskipun sudah tertanam dalam di sanubari orang per orang rakyat Indonesia. Dahulu kala saat Indonesia belum dikungkung yang namanya sistem kolonialisme dan imperialisme, Indonesia terjebak di dalam sistem Feodalisme. Feodalisme itu lahir karena mental, mental yang terbangun karena adanya pola berfikir yang salah, pola berfikir yang minimnya pengetahuan, pola berfikir yang masih pada berorientasi pada ilusi-ilusi dan ketakutan akan sesuatu dan pola berfikir yang tidak berorientasi pada kesadaran akan persamaan derajat seluruh umat manusia di Indonesia dan di dunia.

Feodalisme yang kemudian melahirkan sistem Kapitalisme karena adanya proses dialektika makin menambah rintangan menuju cita-cita Sosialisme Indonesia seratus persen, yakni Sosialisme Indonesia yang sejati yang tentu bertambah pula penderitaan rakyat Indonesia. Bertambah suburlah pula mental bangsa Indonesia yang berorientasi pada nilai-nilai di atas, mental yang menerima nasib dan kelemahannya itu, yang menerima adanya “antara atas dan bawah”,sehingga semakin terjebak oleh determinasi pola berfikir tadi. Cita-cita Sosialisme Indonesia pun akhirnya belumlah kita sampai padanya. Dapatlah digambarkan cita-cita Sosialisme Indonesia itu, Sosialisme yang menghendaki kemerdekaan, persaudaraan dan persamaan diseluruh umat manusia, Sosialisme yang sesuai dengan Pancasila, yang merupakan nilai-nilai luhur asli Bangsa Indonesia bukan gambarannya Sosialisme yang selama ini disalahtafsirkan.

Mari lanjutkan dan sempurnakan Bangsa ini ke arah Sosialisme Indonesia itu. Sosialisme Indonesia itu anti perpecahan, maka hadang semua usaha-usaha yang kian membahayakan Persatuan Nasional. Indonesia adalah satu, yakni persatuan dari sabang sampai merauke

Ngakunya pemuda Progressive


  Ngakunya pemuda Progressive tapi memaksa orang untuk memepercayai dogmanya dan memaksa terikat dg nilai2 yang dibentuk oleh para pemikir abad 19